Pada tahap awal pengukuran getaran pada mesin industri, umumnya dilakukan pengukuran “overall”, yaitu pengukuran tanpa filter dalam rentang frekuensi tertentu. Tujuan dari metode ini adalah untuk memberikan gambaran umum mengenai kondisi mesin secara keseluruhan sebelum dilakukan analisis yang lebih mendalam.
Jika sering muncul keluhan mengenai getaran di mana getaran mesin meningkat dengan cepat, maka keluhan tersebut perlu dicatat dan dijadikan bagian penting dalam riwayat operasional mesin. Contohnya, dalam analisis getaran, penggantian salah satu komponen mesin bisa memengaruhi kondisi keseimbangan (balancing) maupun penyelarasan (alignment). Demikian pula, penambahan unit mesin baru di sekitar area kerja dapat mengubah frekuensi alami dari mesin maupun struktur yang sudah ada sebelumnya. Selain itu, perubahan parameter operasi mesin seperti perubahan beban kerja, kecepatan kerja, tekanan operasi, dan suhu kerja juga dapat memengaruhi kondisi getaran mesin — khususnya yang disebabkan oleh ketidakseimbangan (unbalance), kavitasi, atau faktor aerodinamis/hidraulis lainnya. Faktor lain yang sering luput dari perhatian adalah instalasi grounding pada struktur dan sistem kelistrikan yang ada. Hal ini bisa berdampak langsung terhadap umur bantalan (bearing) atau kopling (clutch). Dalam beberapa kasus, grounding yang tidak tepat—misalnya saat proses pengelasan dengan titik ground diambil dari struktur terhubung dengan motor penggerak pompa—dapat mempercepat kerusakan komponen mesin. Sering kali, perhatian kita hanya tertuju pada getaran yang tampak sebagai akibat dari kerusakan fisik komponen mesin atau perubahan struktural di sekitarnya. Padahal, akar masalah sesungguhnya bisa berasal dari kejadian-kejadian sebelumnya, yang hanya dapat diidentifikasi jika kita meninjau kembali riwayat operasi mesin secara menyeluruh.
Analisis getaran (Vibration Analysis) sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik operasional dari mesin yang bersangkutan, seperti:
Informasi-informasi tersebut sangat berguna dalam mengidentifikasi frekuensi getaran yang muncul di dalam spektrum pengukuran. Selain itu, data karakteristik mesin juga membantu dalam menentukan jenis instrumen dan transduser yang tepat untuk digunakan. Seperti diketahui, pemilihan transduser — apakah untuk mengukur displacement (perpindahan), velocity (kecepatan), atau acceleration (percepatan) — sangat bergantung pada kecepatan atau frekuensi kerja dari mesin atau komponen yang sedang dianalisis. Penyesuaian alat ukur dengan karakteristik mesin sangat penting agar hasil analisis getaran lebih akurat dan dapat diandalkan (penjelasan lebih lanjut dapat dilihat pada bab Pengukuran Getaran).
Bagi sebagian besar teknisi atau engineer di lapangan yang melakukan Analisis Getaran, skala linear merupakan jenis skala yang paling sering digunakan dalam pengukuran. Pada skala linear, jarak antar garis skala bersifat tetap, dan setiap peningkatan nilai memiliki selisih yang sama. Berbeda dengan skala logaritmik, di mana jarak antar garis skala tidak tetap, karena dihitung berdasarkan rumus logaritma basis 10 dari suatu angka. Hasilnya, peningkatan jarak yang sama pada grafik hanya terjadi jika nilai angka berikutnya merupakan kelipatan 10 dari angka sebelumnya di bawahnya. Jenis-Jenis Skala Umum dalam Grafik Amplitudo vs Frekuensi:
Pemilihan skala logaritmik untuk amplitudo memiliki keunggulan visual, yaitu:
Perbedaan ini dapat dilihat secara nyata jika Anda membandingkan grafik yang diplot pada skala linear dan logaritmik. Pemahaman tentang jenis skala sangat penting agar hasil interpretasi analisis getaran menjadi lebih akurat dan informatif, terutama ketika menangani sinyal amplitudo rendah yang signifikan.
Jika diperlukan untuk mempersempit permasalahan lebih lanjut, analisis juga dapat dilakukan dengan metode lain secara bersamaan, yaitu metode orbit (Lissajous) dan metode pengukuran fase pada bagian-bagian mesin.
Yang dimaksud dengan analisis spektrum di sini adalah suatu upaya untuk menemukan permasalahan dan penyebabnya dengan mempelajari pola perbandingan besarnya amplitudo getaran pada semua kemungkinan frekuensi. Dilihat dari tingkat keberhasilan dalam Analisis Getaran untuk mendeteksi ketidakwajaran dan kerusakan mesin berdasarkan tingkat getarannya, analisis spektrum merupakan metode yang paling berguna dibandingkan dengan analisis orbit dan analisis fase. Telah terbukti bahwa 85% permasalahan mekanis pada mesin berputar dapat diidentifikasi hanya dengan melihat hasil pengukuran amplitudo getaran terhadap frekuensi. Keberhasilan analisis menggunakan metode ini terkadang perlu didukung oleh penggunaan dua metode analisis lainnya secara bersamaan. Hal lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah kelengkapan data dan sistematika yang baik dalam pengukuran atau pengumpulan data getaran. Contoh penerapan pengukuran getaran yang baik adalah melakukan pengukuran pada area bantalan secara vertikal, horizontal, dan aksial. Berikut ini merupakan contoh pengukuran pada arah radial (horizontal dan vertikal) serta arah aksial pada suatu mesin. Gambar 5.5 menunjukkan penataan data yang baik untuk keperluan analisis. Dalam pembahasan berikutnya, akan terlihat bahwa masalah (abnormalitas) pada mesin seperti unbalance (ketidakseimbangan), dapat dibedakan satu sama lain dengan cara melihat arah getaran yang dominan (vertikal, horizontal, aksial, atau kombinasi dari ketiganya). Beberapa contoh kasus yang dapat dijadikan referensi:
Pada bagian ini, Analisis Getaran akan menjelaskan bagaimana data dari hasil pengukuran diinterpretasikan, serta bagaimana karakteristik dari setiap kondisi pengulangan frekuensi berkaitan dengan gejala permasalahan atau ketidakwajaran pada komponen mesin sebagai sumber penyebabnya. Setelah hasil pengukuran diperoleh, langkah berikutnya adalah membandingkan hasil pembacaan dari data pengukuran yang memiliki makna dalam bentuk karakteristik getaran yang berkaitan dengan adanya berbagai permasalahan atau ketidakwajaran pada bagian mesin. Kunci dari langkah Analisis Getaran dalam membandingkan hasil pengukuran ini adalah dengan melihat pembacaan pada frekuensi-frekuensi yang paling berhubungan dengan RPM mesin, dan juga frekuensi yang tidak berhubungan dengan RPM. Identifikasi terhadap amplitudo tinggi yang muncul dalam hasil pengukuran spektrum (amplitudo vs. frekuensi) dan kemungkinan penyebabnya dapat dilihat pada Tabel 5.1 berikut ini:
| Frequency in Term of RPM | Most Likely Causes | Other Possible Causes & Remark |
|---|---|---|
| 1x RPM | Un-balance |
|
| 2x RPM | Mechanical Looseness |
|
| 3x RPM | Misalignment | Usually a combination of misalignment and excessive axial clearances (looseness) |
| Less than 1x RPM | Oil Whirl (Less than 1/2 RPM) |
|
| Synchronous (A.C.Line Frequency) | Electrical Problems | UCommon electrical problems include broken rotor bars, eccentric rotor, un-balanced phase system, unequal air gap |
| 2x Synchronous Frequency | Torque Pulses | Rare as a problem unless resonance is excited |
| Many times RPM (Harmonically Related Freq.) | Bad Gears Aerodinamic Forces. Hydraulic Forces Mechanical Looseness Reciprocating Forces |
Gear teeth times RPM of bad gear
Number of fan blades times RPM Number of Impeller vanes times RPM May accur at 2, 3, 4 and sometimes higher harmonics if severe looseness |
| High Frequency (Not Harmonically Related) | Bad Anti-Friction Bearings |
|
Sebagai tambahan dalam Analisis Getaran, analisis orbit (pola Lissajous) kadang-kadang diterapkan karena pada umumnya, pemasangan pickup non-kontak untuk suatu pengukuran di area bantalan hanya mendeteksi tingkat getaran dalam arah aksial. Oleh karena itu, rekomendasi pengukuran lengkap dengan arah getaran aksial tidak dapat dilakukan secara menyeluruh. Untuk pickup non-kontak, biasanya dipasang secara permanen untuk mendeteksi getaran langsung pada poros mesin yang penggunaannya cukup kritis, dengan pemasangan dalam bentuk probe pada arah radial (horizontal dan vertikal) yang dipisahkan oleh sudut 90 derajat. Dalam hal ini, analisis orbit dapat dilakukan, sebagai pelengkap dari analisis spektrum. Praktisi telah melakukan penelitian mengenai kegunaan metode orbit (pola Lissajous) dan berhasil memperoleh kesimpulan tentang bentuk orbit yang berhubungan dengan kerusakan pada bagian mesin yang diukur dan dianalisis getarannya. Pemasangan untuk metode pengukuran dan analisis dibahas pada bagian berikut.
Catatan mengenai pemasangan pickup non-kontak seperti dijelaskan di atas dapat digunakan sebagai sistem cadangan (redundan), perlindungan failsafe (perlindungan terhadap kegagalan salah satu sensor), dan dapat mencegah shutdown mendadak pada mesin karena salah satu sensor rusak dan memberikan sinyal palsu seolah-olah terjadi getaran tinggi (dipasang menggunakan logika AND). Dari gambar di atas, selain pickup non-kontak (sebagai sensor) yang dipasang, juga harus disediakan osiloskop dengan dua input yang dilengkapi dengan input sumbu "T". Dengan memasang penanda referensi sumbu 'T' ini, maka akan terlihat titik kosong pada garis pola Lissajous yang terbentuk. Gambar di bawah ini menunjukkan pola Lissajous yang tergambar di layar osiloskop.
Sebuah mesin putar (rotary machine) yang "sehat" akan menunjukkan pola Lissajous berupa titik, lingkaran kecil, atau elips kecil (lihat juga nilai amplitudo getaran yang dianggap kasar dan sebagainya pada setiap Tabel Tingkat Keparahan/Severity Chart). Dengan metode Analisis Getaran ini, memang tidak semua masalah pada mesin putar dapat terlihat hanya melalui pola Lissajous. Namun, berdasarkan hasil penelitian para ahli yang mengkaji permasalahan getaran, telah diperoleh kesimpulan tentang karakteristik tertentu dari pola Lissajous yang berasal dari masalah-masalah tertentu pada mesin putar sebagai berikut:
UNBALANCE
Kondisi ketidakseimbangan (unbalance) pada mesin putar ditunjukkan oleh pola
Lissajous berupa getaran besar pada frekuensi 1 X RPM, dengan asumsi bahwa getaran
pada frekuensi lainnya sangat kecil dan tidak signifikan.
Bentuk polanya bisa benar-benar bulat atau sedikit elips, dan dalam pola tersebut
akan tampak satu titik kosong (bush spot) yang menunjukkan bahwa getaran besar hanya
terjadi pada frekuensi 1 X RPM.
Gambar pola Lissajous ini ditampilkan di bawah.
MISALIGNMENT
Ketidakselarasan (misalignment) yang terjadi pada mesin putar akan menyebabkan
getaran utama pada frekuensi 1 X RPM, yang kemudian diikuti oleh getaran pada 2 X
RPM, 3 X RPM, dan harmonik yang lebih tinggi.
Dalam gambar pola Lissajous, akan terbentuk bentuk elips pipih seperti pisang atau
bahkan bentuk pisang yang melengkung.
Bentuk elips pipih ini selain menunjukkan kemungkinan getaran akibat
ketidakselarasan, juga dapat diakibatkan oleh kerusakan bantalan (bearing) atau
kemungkinan resonansi.
OIL WHIRL
Oil whirl akan menyebabkan getaran utama pada frekuensi di bawah 1 X RPM.
Dalam gambar pola Lissajous, akan terlihat dua lingkaran atau elips yang ditandai
dengan dua titik kosong.
Karena kejadian oil whirl di bawah 1 X RPM tidak selalu tepat pada 1/2 X RPM, maka
lingkaran atau elips yang lebih kecil akan bergerak, dan titik kosong pada lingkaran
kecil itu juga akan terlihat berpindah.
RUBBING
Pola ini mirip dengan pola Lissajous yang terjadi pada oil whirl, perbedaannya adalah pada kejadian rubbing, lingkaran bagian dalam tidak berputar. Semakin parah kondisi rubbing yang terjadi (disebut heavy rubbing atau full rubbing) dan jika digabungkan dengan frekuensi resonansi, frekuensi harmonik, serta frekuensi acak non-sinkron, maka akan terbentuk pola Lissajous yang sangat kompleks, seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
Salah satu teknik Analisis Getaran yang sangat berguna untuk mendeteksi dan mengidentifikasi masalah pada mesin adalah pengukuran dan analisis fase. Pengukuran fase umumnya dinyatakan dalam satuan derajat sudut atau radian, jika satu siklus penuh getaran bernilai 360 derajat atau 2π radian. Definisi fase adalah bagian dari suatu siklus (0–360 derajat) di mana suatu bagian dari mesin telah bergerak relatif terhadap bagian mesin lainnya atau terhadap suatu titik acuan tetap. Sebagai contoh, fase dari dua objek yang bergerak secara periodik secara sinusoidal terhadap waktu dapat diamati, di mana setiap fase dapat diukur terhadap waktu dan juga fase relatif antara satu objek dengan objek lainnya, sebagaimana ditunjukkan dalam gambar di bawah ini.
Dua titik yang bergerak secara periodik akibat getaran dari mesin berputar dapat diamati perbedaan fase relatifnya antara satu dengan lainnya menggunakan osiloskop dual-trace yang memiliki dua input. Dengan demikian, secara visual, kedua titik yang bergetar tersebut dapat terlihat dengan jelas, tidak hanya dari segi periode/frekuensi dan besar amplitudo, tetapi juga dari fase atau perbedaan fasenya, seperti yang ditunjukkan dalam gambar di bawah.
Instruksi :
Memahami dasar-dasar Analisis Getaran dan prinsip dasar getaran sangat penting untuk membentuk
fondasi yang kuat dalam menganalisis permasalahan pada mesin berputar. Perpindahan antara domain
waktu dan frekuensi adalah alat umum yang digunakan untuk analisis. Karena spektrum frekuensi
berasal dari data domain waktu, maka hubungan antara waktu dan frekuensi menjadi hal yang
penting.
Satuan yang digunakan mencakup percepatan, kecepatan, dan perpindahan. Istilah tambahan seperti
peak, peak-to-peak, dan rms juga sering digunakan. Mengonversi satuan dengan benar dan memahami
istilah-istilah tersebut adalah hal yang wajib.
Massa dan Kekakuan (Stiffness):
Semua mesin dapat dibagi menjadi dua kategori spesifik:
Konsep:
Konsep:
Jika frekuensi alami meningkat, maka waktu menurun. Jika waktu meningkat, frekuensi menurun.
Bandwidth (Lebar Pita)
Bandwidth dapat dihitung dengan rumus:
\( \text{Bandwidth} = \left( \frac{\text{Rentang Frekuensi}}{\text{Jumlah Garis Analisa}}
\right) \times \text{Fungsi Jendela} \)
Resolusi Frekuensi
\( \text{Resolusi} = 2 \times \text{Bandwidth} \)
Contoh: 0-400 Hz, 800 garis, Hanning window
Jawab: \( \text{Resolusi} = 2 \times \left( \frac{400\,\text{Hz}}{800} \right) \times 1.5 = 1.5\
\text{Hz/garis} \)
Menggunakan Resolusi
Seorang siswa ingin mengukur dua frekuensi gangguan yang berdekatan:
Frekuensi #1 = 29.5 Hz.
Frekuensi #2 = 30 Hz.
Perbedaan = 0.5 Hz
\(0.5 = 2 \times \left( \frac{\text{Rentang Frekuensi}}{800} \right) \times 1.5 \) \(\Rightarrow
\text{Rentang Frekuensi} = \frac{0.5 \times 800}{2 \times 1.5} = 133\ \text{Hz} \)
Data Sampling Waktu
Waktu pengambilan sampel data analisis bergantung pada rentang frekuensi dan jumlah garis
analisa:
\( \text{Waktu Sampel} = \frac{\text{Jumlah Garis}}{\text{Rentang Frekuensi}} \)
Using 400 lines with a frequency range of 800 Hz will require: 400/800 = 0.5 seconds
Amplitudo (Skala Y)
Skala “Y” menunjukkan nilai amplitudo untuk setiap sinyal atau frekuensi. Satuan standar pada
skala Y adalah volt RMS, termasuk satuan teknik (Engineering Unit / EU).
Tiga akhiran umum amplitudo adalah:
Akhiran Satuan Standar
Displacement = mil peak-to-peak
Velocity =inch/s peak atau RMS
Acceleration = g peak atau RMS
Catatan: 1 mil = 0.001 inchi
Engineering Unit (EU)
Satuan teknik yang digunakan untuk memberikan arti terhadap amplitudo pengukuran. Misalnya,
konversi mV menjadi satuan lain seperti g-force atau tekanan. Contoh:
Penggunaan Engineering Unit (EU)
Contoh: Sebuah akselerometer memberikan output 100 mV/g dan terdapat 10 mV peak pada spektrum
frekuensi. Maka amplitudo dalam satuan g:
\( \text{Amplitudo (g)} = \frac{\text{Output Sensor (mV)}}{\text{Sensitivitas (mV/g)}} =
\frac{10}{100} = 0.1\, g \)
Konversi antara Acceleration, Velocity, dan Displacement
Kadang kita mengambil data dalam satuan percepatan, namun spesifikasi mesin dalam kecepatan atau
perpindahan. Oleh karena itu perlu konversi satuan, misalnya:
Gravitasi (g) = 386.1 inchi/detik²