Apa Itu Balancing?
Prinsip Balancing
Proses balancing dilakukan dengan menambahkan massa koreksi dengan berat tertentu pada posisi
yang berlawanan langsung dengan gaya ketidakseimbangan pada rotor. Informasi yang diperlukan
dalam proses ini meliputi:
- Berat massa koreksi
- Posisi sudut penempatan massa koreksi
Prosedur Balancing
Pasang seluruh peralatan (aksesoris) untuk proses balancing pada peralatan, dan kumpulkan data
teknis seperti: diameter, berat peralatan, dan panjang peralatan.
Terdapat dua metode balancing yang digunakan, yaitu:
There are 2 types of balancing methods used, namely:
-
Single Plane: Digunakan untuk peralatan dengan rasio panjang terhadap diameter (L/D) <> 0.5.
Metode ini umumnya diterapkan pada peralatan seperti: blower, kipas (fan), dan pompa.
-
Two Plane: Digunakan untuk peralatan dengan rasio L/D > 0.5.
Metode ini biasanya digunakan pada peralatan seperti: roll.
Langkah-Langkah Single Plane Balancing:
- Jalankan peralatan dan ukur seluruh getaran serta sudut fasa dari
peralatan tersebut, yang merupakan data awal untuk proses balancing. Catat semua data yang
diperoleh.
- Hitung berat trial mass (massa uji coba).
Perhitungan ini bisa dibantu oleh software dari alat balancing dengan memasukkan data berat,
diameter, dan kecepatan putar (RPM) peralatan.Jika perhitungan dilakukan secara manual, maka
bisa dilakukan dengan mengetahui nilai specific unbalance dari peralatan, kemudian
menggunakan rumus berikut:
\( e = \frac{m \times r}{M} \)
Where:
e : Specific unbalance, dapat dilihat pada tabel
ISO 1940 (Standar Keseimbangan)
m : Massa unbalance residual (gram)
r : Jarak dari pusat massa rotor ke posisi trial mass (mm)
M : Massa rotor (Kg)
Umumnya, besar trial mass berada dalam kisaran (5 – 10) x m residual.
- Pasang trial mass pada posisi yang dapat menghasilkan perbedaan fasa
terhadap data awal sebesar ±30 derajat (berdasarkan pengalaman), atau bisa juga ditentukan
melalui software alat. Beri tanda (marking) pada posisi trial mass tersebut.
- Jalankan kembali peralatan dan ukur ulang semua data (getaran dan fasa)
sebagai data hasil pemasangan trial mass, lalu catat seluruh data tersebut.
- Hitung massa koreksi (correction mass) yang akan dipasang pada
peralatan. Jika menggunakan software, maka ukuran dan sudut penempatan akan ditampilkan
secara otomatis. Jika dilakukan secara manual, maka:
- Masukkan semua vektor dari data awal dan data trial mass
- Hitung sudut vektor penghubung antara vektor data awal dan vektor trial mass
- Sudut inilah yang digunakan untuk menentukan posisi penempatan correction mass
Arah penempatan correction mass ditentukan berdasarkan perbandingan sudut fasa data awal dan
trial mass:
- Jika sudut fasa trial mass > sudut fasa data awal, maka correction mass dipasang
berlawanan arah jarum jam dari posisi trial mass.
- Jika sudut fasa trial mass < sudut fasa data awal, maka correction mass dipasang
searah jarum jam dari posisi trial mass.
\( CorrectionWeight = \frac{TW \times O}{T} \)
Dimana:
TW : Trial Weight (berat trial mass)
O : Original Unbalance (vektor data awal)
O+T : Vektor hasil penambahan antara original unbalance dan trial weight
T : Nilai dari grafik (atau dihitung dari selisih vektor O+T dan O)
Momen Ketidakseimbangan
Momen ketidakseimbangan (unbalance moment) biasanya terjadi pada rotor yang memiliki diameter
lebih besar dari 7–10 kali panjang rotornya.
Sebuah rotor dikatakan seimbang apabila memiliki massa yang setara dan tersusun secara simetris
terhadap pusat massa, namun berada pada posisi sudut yang saling berlawanan.
Langkah-Langkah Two-Plane Balancing:
- Pasang sensor akselerometer (accelerometer) dan probe tachometer, lalu
hubungkan ke alat balancing.
- Jalankan peralatan pada kecepatan operasi normal, lalu ukur seluruh
getaran dan sudut fasa pada masing-masing bidang (Plane A dan Plane B). Data ini merupakan
data awal (initial data) untuk proses balancing. Catat seluruh data tersebut.
- Hitung berat trial mass (massa uji coba). Perhitungan dapat dilakukan
dengan bantuan software alat, cukup dengan memasukkan data: berat, diameter, dan kecepatan
putar peralatan. Jika perhitungan dilakukan secara manual, gunakan rumus:
\( e = \frac{m \times r}{M} \)
Dimana:
e : Specific unbalance (dapat dilihat pada tabel
ISO 1940 (Standar Keseimbangan)
m : Massa unbalance residual (gram)
r : Jarak dari pusat gravitasi rotor ke posisi trial mass (mm)
M : Massa rotor (Kg)
Umumnya, besar trial mass berada dalam kisaran (5 – 10) x m residual.
-
Pasang trial mass pada Plane A, di posisi yang dapat menghasilkan perbedaan fasa terhadap
data awal sekitar 30 derajat (berdasarkan pengalaman) atau ditentukan melalui software.
Tandai posisi trial mass (marking).
-
Jalankan peralatan dan ukur ulang seluruh data (getaran dan sudut fasa) pada kedua bidang
(Plane A dan B) sebagai data trial mass untuk Plane A, kemudian catat seluruh data tersebut.
-
Pasang trial mass pada Plane B, di posisi yang juga menghasilkan perbedaan fasa sekitar 30
derajat, atau ditentukan melalui software, kemudian tandai posisinya.
-
Jalankan kembali peralatan, lalu ukur ulang seluruh data (getaran dan sudut fasa) pada Plane
A dan B sebagai data trial mass untuk Plane B, lalu catat hasilnya.
- Hitung massa koreksi (correction mass) pada Plane A dan Plane B:
- Jika menggunakan software, ukuran dan sudut penempatan akan
langsung ditampilkan.
-
Jika dihitung secara manual, masukkan semua vektor dari data awal dan data trial
mass pada Plane A dan B, kemudian:
- Hitung sudut antara vektor data awal dengan vektor
hasil penambahan trial mass
-
Tentukan arah penempatan berdasarkan perbandingan sudut fasa:
- Jika Sudut Fasa Trial Mass (SPTM) > Sudut Fasa
Awal (SPI), maka massa koreksi dipasang berlawanan arah jarum jam
dari posisi trial mass.
- Jika SPTM < SPI, maka massa koreksi dipasang
searah jarum jam dari posisi trial mass.
\( CorrectionWeight = \frac{TW \times OV}{Vt} \)
Keterangan:
TW : Trial Weight (massa uji coba)
OV : Vektor unbalance awal (Initial Data Vector)
V11 : Vektor unbalance awal + trial mass pada Plane A (diukur dari Plane A)
V12 : Vektor unbalance awal + trial mass pada Plane B (diukur dari Plane A)
Vt11 & Vt12 : Nilai dari grafik (menentukan rasio hasil perhitungan vektor)
Untuk menentukan massa koreksi pada Plane B, ikuti langkah yang sama seperti untuk Plane A.
Jika massa koreksi untuk kedua bidang telah diketahui, namun koreksi hanya akan dilakukan
pada satu bidang saja, maka gabungkan kedua massa koreksi tersebut menggunakan penjumlahan
vektor untuk mendapatkan satu massa koreksi gabungan.